Definisi Pengangkatan Anak

Yang dimaksud dengan anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan[1]. Sedangkan pengangkatan anak adalah suatu perbuatan hukum yang mengalihkan seorang anak dari lingkungan kekuasaan orang tua, wali yang sah atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkat dilakukan melalui penetapan pengadilan[2]. Anak angkat adalah anak orang lain yang dianggap anak sendiri oleh orang tua angkat dengan resmi menurut hukum adat setempat, dikarenakan tujuan untuk kelangsungan keturunan dan atau pemeliharaan atas harta kekayaan rumah tangga[3]. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa sahnya pengangkatan anak menurut hukum adalah apabila telah memperoleh penetapan pengadilan.

Pengangkatan anak berbeda dengan pemeliharaan anak, karena pengangkatan anak menimbulkan akibat-akibat hukum tersendiri. Adanya anak angkat yaitu karena seseorang diambil atau dijadikan anak oleh orang lain sebagai anaknya. Namun pada prakteknya masih terjadi pengangkatan anak secara langsung dengan kesepakatan antara orang tua angkat dan orangtua kandung atau melalui perantara, dengan membuat perjanjian penyerahan anak baik secara bawah tangan maupun di hadapan Notaris tanpa dilanjutkan melalui proses pengadilan. Atau dalam hal proses pembuatan akta kelahiran, di mana orangtua angkat langsung mendaftarkan ke Kantor Catatan Sipil untuk mencatatkan anak angkat seakan-akan sebagai anak kandung mereka tanpa mengikuti prosedur dalam peraturan perundang-undangan yang ada yakni melalui penetapan pengadilan oleh karena pemahaman yang kurang serta informasi yang terbatas terhadap proses yang seharusnya maupun untuk kepentingan tersendiri.

Pengangkatan anak sebenarnya bukanlah masalah baru di Indonesia, karena sejak jaman dahulu telah dilakukan pengangkatan anak dengan cara dan motivasi yang berbeda-beda. Pada mulanya pengangkatan anak di Indonesia bertujuan untuk dapat melanjutkan garis keturunan, namun seiring dengan perkembangan waktu, tujuan dari pengangkatan anak hanya dapat dilakukan untuk kepentingan terbaik bagi anak[1]. Pengangkatan anak bertujuan untuk kepentingan terbaik bagi anak dalam rangka mewujudkan kesejahteraan anak dan perlindungan anak, yang dilaksanakan berdasarkan adat kebiasaan setempat dan ketentuan peraturan perundang-undangan[2].

Kondisi ini tidak sesuai dengan yang seharusnya untuk keuntungan sendiri dan kelancaran proses yang mereka lakukan bahkan dengan menghilangkan asal usul anak dengan memalsukan akta lahir anak, sebagai upaya untuk menyembunyikan identitas orang tua kandung anak yang diangkatnya. Hal ini bertentangan dengan apa yang sudah diatur dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak yang menegaskan bahwa orang tua angkat wajib memberitahukan kepada anak angkatnya mengenai asal usulnya dan orang tua kandungnya[3], namun proses pengangkatan anak yang semacam itu sampai saat ini masih banyak dilakukan karena kurangnya sosialisasi yang menyeluruh mengenai program pengangkatan anak yang sah.


[1] Indonesia, Undang-Undang Tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 23 Tahun 2003, LN Nomor 109 Tahun 2002, TLN Nomor 4235, pasal 39 ayat 1

[2] Indonesia, Peraturan Pemerintah Tentang Pelaksanaan Pengangkatan Anak, PP Nomor 54 Tahun 2007, LN Nomor 123 Tahun 2007, TLN Nomor 4768, pasal 2

[3] Indonesia, Undang-undang Tentang Perlindungan Anak, UU Nomor 23 Tahun 2002, LN Nomor 109 Tahun 2002, TLN Nomor 4235, pasal 40 ayat 1


esty indrasari – yogi prastomo – tito indra prastomo – tara indra prastomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
error: Content is protected !!