Pengertian Pengangkatan Anak

Pengangkatan anak atau yang biasa dikenal dengan istilah adopsi berasal dari kata ‘adoptie’ bahasa Belanda[1], atau ‘adopt’ (adoption) bahasa Inggris[2] yang berarti mengangkat anak, pengangkatan anak. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, ‘adopsi’ (mengadopsi) berarti mengambil anak orang lain untuk dijadikan anak angkat atau anak pungut secara sah melalui catatan sipil[3]. Menurut Black’s Law Dictionary, pengertian adopsi adalah “The statutory process of terminating a child’s legal rights and duties toward the natural parents and substituting similar rights and duties toward adoptive parents[4].

Pada umumnya, adopsi dilaksanakan untuk mendapatkan anak bagi orang tua yang belum mempunyai keturunan atau untuk mendapatkan pewaris. Akibat dari adopsi yang demikian itu, anak yang diadopsi kemudian memiliki status sebagai anak yang sah dengan segala hak dan kewajibannya.

Menurut Surojo Wignjodipuro, mengangkat anak atau adopsi adalah suatu perbuatan pengambilan anak orang lain ke dalam keluarga sendiri sedemikian rupa, sehingga antara orang yang memungut anak dan anak yang dipungut itu timbul suatu hukum kekeluargaan yang sama, seperti yang ada antara orang tua dengan anak kandungnya sendiri[5]. Sedangkan Soerjono Soekanto memberi rumusan tentang adopsi atau pengangkatan anak sebagai suatu perbuatan mengangkat anak untuk dijadikan anak sendiri, atau mengangkat seseorang dalam kedudukan tertentu yang menyebabkan timbulnya hubungan yang seolah-olah didasarkan pada faktor hubungan darah. Adopsi harus dibedakan dengan pengangkatan anak dengan tujuan semata-mata untuk pemeliharaan anak saja. Dalam hal ini anak tidak mempunyai kedudukan sama dengan anak kandung dalam hal warisan[6].

Dalam kajian Hukum Islam, ada dua pengertian pengangkatan anak[7], yaitu mengambil anak orang lain untuk diasuh dan 
dididik dengan penuh perhatian dan kasih sayang (tanpa diberikan status anak kandung, kepadanya cuma ia diperlakukan oleh orang tua angkatnya sebagai anak sendiri) maupun mengambil anak orang lain sebagai anak sendiri dan ia diberi status sebagai anak kandung, sehingga ia berhak memakai nama keturunan (nasab) orang tua angkatnya dan saling mewarisi harta peninggalan, serta hak-hak orang lain sebagai akibat hukum antara anak angkat dan orang tua angkat. Dari ketentuan tersebut, pengertian pertama adalah yang lebih sesuai dengan pengangkatan anak yang dilandasi menurut Hukum Islam, karena tujuan pengangkatan anak hanya untuk mendidik, merawat, memberikan kasih sayang dan menyekolahkan dengan harapan anak tersebut terangkat derajatnya baik secara moril maupun materiil.


[1] A. Teeuw. Kamus Indonesia Belanda. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002, hlm. 7

[2] John M. Echols dan Hassan Shadily. Kamus Inggris Indonesia. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 1995, hlm. 13

[3] J.S. Badudu. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan, 2001, hlm. 9

[4] Garner, Bryan A. Black’s Law Dictionary, Seventh Edition, St. Paul: 1999, hlm. 50

[5] Surojo Wignjodipuro. Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat. Bandung: Alumni, 1973, hlm. 123

[6] Soerjono Soekanto. 1980. Intisari Hukum Keluarga. Bandung: Alumni, 1980, hlm. 52

[7] Nasroen Haron dkk. Ensiklopedi Hukum Islam. Jakarta: PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1996, hlm. 29

esty indrasari – yogi prastomo – tito indra prastomo – tara indra prastomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
error: Content is protected !!