Proses Perubahan Nama Anak Angkat melalui Pengadilan dan administrasi kependudukan

Salah satu hal yang lazim dilakukan oleh orang tua angkat setelah selesai melaksanakan seluruh proses pengangkatan anak adalah melakukan perubahan nama atau penambahan nama terhadap anak angkatnya. Hal ini dilakukan dengan mengajukan permohonan kepada Pengadilan Negeri untuk mengganti/ menambah nama anak tersebut.

Dokumen yang perlu dilengkapi adalah surat permohonan perubahan nama yang ditujukan ke Pengadilan Negeri setempat, fotokopi KTP, fotokopi KK, fotokopi Kutipan Akta Nikah, fotokopi Akta Kelahiran anak dan fotokopi Penetapan Pengadilan Adopsi yang semuanya harus diberi materai secukupnya dan dilegalisir di tempat yang ditunjuk oleh Pengadilan setempat (misalnya Pengadilan Negeri Jakarta Selatan merujuk ke Kantor Pos Fatmawati) untuk legalisir dokumen-dokumen yang diperlukan. Ada hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan nama yang tidak dapat dikabulkan oleh Hakim dalam hal ini, sehingga perlu dipelajari lebih lanjut sebelum mengajukan permohonan penggantian atau penambahan nama yakni tidak diperbolehkan menggunakan nama bapak angkatnya apabila nama bapak kandungnya diketahui. Kemudian setelah mendapatkan Penetapan Pengadilan, fotokopi dari penetapan tersebut beserta dokumen pendukungnya perlu didaftarkan kembali di Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil setempat, yang nantinya akan mengeluarkan Kutipan Akta Kelahiran baru untuk mengganti Kutipan Akta Kelahiran yang lama, tercantum nama baru anak tersebut beserta catatan pinggir yang sudah ditambahkan (bahwa anak tersebut merupakan anak yang sudah diangkat secara sah berdasarkan penetapan pengadilan, dan bahwa anak tersebut sudah diganti namanya secara sah melalui penetapan pengadilan).

Langkah selanjutnya adalah memasukan data anak ke dalam Kartu Keluarga yakni dengan mengajukan permohonan kepada Dukcapil terhadap perubahan data KK dengan menyertakan dokumen pendukungnya seperti fotokopi KTP kedua orang tua, fotokopi dan asli KK, Kutipan Akta Kelahiran dengan nama baru (artinya sudah diperbaharui dari yang sebelumnya dengan nama asli anak angkat tersebut), surat pengantar dari RT/ RW dan surat pengantar dari Kelurahan. Nantinya data anak tersebut akan dimasukan ke dalam KK dengan status hubungan dengan keluarga menjadi “anak” dan nama orang tua yang dituliskan adalah orang tua angkatnya oleh karena sudah terdapat Putusan Pengadilan (pada saat tulisan ini dibuat sekitar tahun 2017), namun terdapat perubahan selang beberapa bulan kemudian bahwa yang tercantum dalam KK adalah nama orang tua kandungnya walaupun statusnya dirubah menjadi anak.

Dalam hal ini, terdapat kendala dimana apabila pada saat setelah mendapat penetapan pengadilan data anak angkat langsung dimasukan ke dalam KK dengan pengurusan di Kelurahan dengan berbekal Kutipan Akta Kelahiran yang sudah dibubuhkan catatan pinggir oleh Dukcapil, ada kemungkinan bahwa terjadi ketidakselarasan pendapat antara Kelurahan dan Dukcapil dalam praktek, yakni pihak Kelurahan mencantumkan data anak angkat tersebut apa adanya, artinya status anak tersebut tertulis “lainnya” dan nama orang tua yang dicantumkan adalah orang tua kandung anak tersebut. Sehingga baik Kutipan Akta Kelahiran maupun KK betul-betul menunjukkan identitas asli anak tersebut, sedangkan apabila prosesnya diurus ke Dukcapil terlebih dahulu, instansi tersebut yang akan merubah data dan mencetak draft KK yang kemudian akan dibawa untuk kepengurusan di Kelurahan berdasarkan draft tersebut yang telah merubah status menjadi “anak” dan mencantumkan nama orang tua angkatnya sehingga dokumen KK tidak secara eksplisit menunjukan asal-usul anak angkat tersebut dan lebih nyaman untuk digunakan untuk keperluan pengurusan apapun karena melindungi kerahasiaan anak angkat sebelum pada waktunya diberitahukan mengenai sejarah pengangkatan oleh orang tuanya.

esty indrasari – yogi prastomo – tito indra prastomo – tara indra prastomo

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
LinkedIn
error: Content is protected !!